Antara penyakit Fistula ani dan penyakit wasir memang sulit dibedakan. Tak heran, keduanya sama-sama menyebabkan nyeri pada dubur dan buang air berdarah. Namun, tetap ada perbedaan mendasar antara fistula ani dan wasir. Simak lebih lanjut dalam ulasan berikut!
Perbedaan fistula ani dan Wasir
Mengetahui perbedaan fistula ani dan wasir penting untuk mengetahui penanganan yang tepat. Anda bisa membedakan fistula ani dan wasir melalui beberapa hal ini.
1. Kondisi anus
Untuk mengetahui perbedaan fistula ani dan wasir, Anda harus memahami kondisi anus pada kedua penyakit ini.
Fistula ani adalah robekan atau luka terbuka pada jaringan tipis (mukosa) yang melapisi anus.
Sementara itu, wasir atau ambeien adalah pembengkakan pembuluh darah pada anus dan rektum bagian bawah.
Ambeien sebenarnya serupa dengan varises, hanya saja terletak pada anus dan rektum.
Pada fisura ani, luka atau robekan hanya muncul di bagian dalam anus.
Namun, pembengkakan pembuluh darah pada wasir bisa terjadi pada rektum bagian dalam maupun kulit anus terluar.
2. Gejala yang muncul
Selain membuat buang air berdarah dan nyeri pada dubur, fistula ani dan wasir juga menyebabkan benjolan atau tonjolan pada anus.
Meski demikian, tetap ada gejala perbedaan fistula ani dan wasir yang cukup jelas.
Pada fisura ani, tonjolan ini hanya muncul pada bagian kulit dekat robekan. Benjolan ini muncul bila kondisi sudah parah dan tidak membaik selama lebih dari 6 minggu.
Sementara itu, tonjolan pada wasir biasanya muncul akibat anus yang membengkak. Dalam kondisi yang lebih parah, tonjolan wasir muncul akibat rektum keluar dari anus.
Gejala fistula ani lainnya adalah:
nyeri, perih, dan sensasi terbakar saat dan setelah buang air besar,
kesulitan buang air kecil atau terlalu sering buang air kecil,
anus terasa kencang saat buang air besar, dan
terkadang menimbulkan cairan atau nanah yang berbau dari dubur.
Selain itu, gejala ambeien yang bisa Anda temukan di antaranya:
anus gatal,
nyeri anus, terutama saat duduk, dan
buang air besar dan berdarah tanpa rasa nyeri yang berarti.
3. Penyebab
Fistula ani dan wasir memang memiliki salah satu penyebab yang sama yaitu konstipasi atau sembelit.
Namun, proses bagaimana sembelit akhirnya menyebabkan fistula ani dan wasir berbeda.
Pada fisura ani, konstipasi menyebabkan feses menjadi kering, keras, dan besar sehingga melukai jaringan mukosa pada dubur.
Nah, saat sembelit, akan ada kecenderungan mengejan lebih keras. Hal ini justru menekan pembuluh darah pada anus dan rektum.
Akibatnya, pembuluh darah membengkak dan wasir pun timbul.
Penyebab fistula ani lainnya adalah:
diare kronis,
memasukkan benda asing ke dalam dubur atau seks anal,
melahirkan, dan
gangguan otot pada anus yang membuatnya terlalu kaku.
Beberapa pemicu wasir lainnya yang bisa Anda jumpai, seperti:
duduk terlalu lama,
mengangkat beban berat terlalu sering, dan
tekanan panggul akibat pertambahan berat badan saat hamil.
4. Faktor risiko
Perbedaan fistula ani dan wasir juga bisa berasal dari faktor risikonya.
Umumnya, faktor risiko fistula ani adalah masalah kesehatan yang membuat anus lebih rentan terluka.
Sementara itu, faktor risiko ambeien adalah keluhan yang memicu pembengkakan pembuluh darah anus dan rektum.
Faktor lainnya yang meningkatkan risiko fisura ani, yakni:
kanker anus,
penyakit Crohn atau sindrom iritasi usus besar,
tuberkulosis,
berkurangnya aliran darah menuju anus, dan
infeksi menular seksual, seperti sifilis, HIV, dan herpes.
Beberapa meningkatkan risiko seseorang terkena ambeien adalah:
obesitas,
melemahnya jaringan pada anus dan rektum akibat usia,
memiliki keluarga dengan ambeien, dan
fungsi usus yang bermasalah akibat terlalu sering menggunakan obat pencahar atau prosedur enema.
5. Cara penanganan
Pengobatan fistula ani dan wasir memang hampir sama, salah satunya yaitu pemberian krim anestesi lidocaine di anus.
Meski demikian, tetap perbedaan fistula ani dan wasir dalam pengobatan yang lebih lanjut.
Menurut penelitian dalam jurnal Australian Prescriber, inilah penanganan fistula ani yang kerap dokter berikan.
Nitrogliserin oles: untuk meningkatkan aliran darah agar luka cepat sembuh.
Suntik botoks: untuk melemaskan otot anus yang kaku.
Obat tekanan darah: obat ini diberikan jika nitrogliserin tidak efektif.
Operasi internal sphincterotomy: operasi fistula ani ini memotong sfingter anus untuk mengurangi otot kaku dan mempercepat penyembuhan.
Mengutip studi dalam jurnal World Journal of Gastroenterology, berikut ini adalah beberapa pengobatan wasir.
1. Pemberian obat-obatan
Konsumsi obat minum, seperti obat flavonoid dan kalsium dobesilat mengurangi pembengkakan dan peradangan pada pembuluh darah anus dan rektum. Selain itu, dokter bisa memberikan obat oles kortikosteroid dan anti-inflamasi.
2. Tindakan nonbedah
Inilah beberapa tindakan nonbedah untuk menyembuhkan wasir.
Skleroterapi: penyuntikan pembuluh darah pada anus.
Rubber band ligation: meletakkan karet di pangkal wasir agar menghentikan suplai darah ke pembuluh darah.
Infrared coagulation menguapkan air di dalam sel anus dan rektum agar wasir menyusut.
Radiofrequency ablation: memberikan frekuensi radio pada anus dan rektum agar darah mengental dan cairan di sel-sel anus menguap.
Cryotherapy: pengikisan jaringan wasir dengan suhu rendah.
3. Tindakan bedah
Inilah prosedur bedah untuk mengatasi wasir sudah cukup parah, terutama saat pengobatan sebelumnya tidak manjur.
Hemoroidektomi: pemotongan wasir di bagian luar atau rektum yang keluar melalui anus.
Stapel wasir: menarik rektum yang keluar agar kembali ke dalam anus atau menjepit benjolan dengan alat khusus.
Perbedaan fistula ani dan wasir yang cukup jelas adalah penyebab utamanya. Fistula ani muncul akibat luka, sedangkan wasir terjadi karena pembengkakan pembuluh darah.
Untuk mencegahnya, mulai jalani pola hidup sehat dengan konsumsi serat dan air putih yang cukup serta olahraga rutin 30 menit per hari.
Demikian postingan singkat Beberapa Perbedaan Penyakit Fistula Ani dengan Wasir, semoga bermanfaat
Sumber Artikel : hellosehat.com